|
PERJALANAN SULTAN
MAHKOTA ALAM ASADDIN SYAHJOHAN KE SUMATERA TIMUR
Sultan Mahkota Alam
Aladdin Syahjohan ( Al Qahhar ) yang disebut juga
dengan Sultan Iskandar Muda memiliki banyak gelar,
diantaranya Darmawangsa, Perkasa Alam, Tun Pangkat
dan setelah semakin berkembangnya wilayah kerajaan
Aceh maka beliau pun bergelar Mahkota Alam.
Ada beberapa alasan
mengapa Sultan Aceh melakukan perjalanan ke Sumatera
Timur. Alasan yang biasa disebutkan oleh sebahagian
masyarakat pesisir Sumatera Timur ( Masyarakat
Melayu ) adalah karena beliau ingin mempersunting
Puteri Hijau yang konon kecantikannya sangat
terkenal dan telah memukau Sultan Mahkota Alam
Aladdin Syahjohan.
Menurut H.M. Zainuddin
pada bukunya yang berjudul " SInga Aceh " mengatakan
bahwa Sultan Aceh melakukan perjalanan ke Sumatera
Timur terebut untuk melakukan konsolidasi (
Penggalangan ) kekuatan dengan beberapa kerajaan
yang ada di Sumatera Timur untuk menyerang Johor dan
Portugis. Sedangkan menurut C.A. Kroesen dalam
bukunya " de Geschiedenis van Asahan " mengatakan
bahwa kedatangan Sulatan Aceh ke Asahan karena
kemungkinan ditanah Asahan sudah ada pertahanan
Portugis. Pendapat C.A. Kroesen ini sangat sejalan
dengan pendapat Anderson dalam bukunya yang berjudul
" Mission to the east of Sumatera " yang mengatakan
bahwa di Asahan ada bekas-bekas peninggalan Portugis.
Konon Batu Kinihir ( Batu dikikir ) yang terletak di
hilir Pasir Mandogei dikatakan sebagai bekas
peninggalan Portugis.
Setelah armada Sultan Aceh
merapat ke Kuala Asahan, Sultan Iskandar Muda amat
takjub dengan keindahan sungai Asahan dan banyak
dihuni ikan-ikan air tawar. Akan tetapi beliau heran
karena ditempat itu tidak ditemui seorang manusia
pun. Hingga beliau berkata kepada
hulubalang-hulubalangnya " Sepatutnya tempat ini
dihuni oleh manusia karena memilik banyak sekali
sumber-sumber kehidupan ".
Sultan Iskandar Muda
memutuskan untuk menetap sementara di Pulau yang
menurut mereka tidak bertuan terebut. Sampai salah
seorang dari prajuritnya menemukan kulit cempedak
dan tungkul jagung yang terhanyut terbawa arus
sungai. Kulit Cempedak dan tungkul Jagung tersebut
kemudian diambil dan diserahkan kepada Sultan
Iskandar Muda. Setelah Sultan Iskandar Muda meneliti
kedua benda tersebut kemudian beliau memutuskan
bahwa kulit cempedak dan tungkul jagung tersebut
bukanlah sisa dari bekas makanan hewan akan tetapi
bekas dimakan oleh manusia. Sultan Iskandar Muda
kemudian memerintahkan beberapa orang Hulubalang dan
prajuritnya untuk menyusuri sungai dan mencari asal
dari kulit Cempedak dan tungkul Jagung tersebut.
Setelah sekian lama
mencari akhirnya Hulubalang dan beberapa orang
prajurit menemukan sebuah kampung terletak dihulu
sungai yang bernama Kampung Tualang. Dikampung ini
mereka menemukan seorang pencari kayu bakar dan
menanyakan perihal siapakah gerangan raja di daerah
ini. Karena hulubalang tersebut bertanya dengan
menggunakan bahasa aceh, pencari kayu bakar bingung
dan pergi meninggalkan mereka. Tidak lama kemudian
mereka bertemu lagi dengan seorang pejalan kaki.
pejalan kaki tersebut adalah seorang dari bangsa
karo-karo yang bernama Banyak Lingga. Sekali lagi
Hulubalang menanyakan mengenai hal diatas dengan
bahasa Aceh. Tetapi betapa terkejutnya dia ketika
mengetahui bahwa Banyak Lingga mengerti dengan
bahasa yang digunakannya tersebut. Banyak Lingga
kemudian menjawab bahwa yang menjadi raja di daerah
ini adalah seorang perempuan yang bernama
Simargolang dari bangsa batak. Menurut kamus
marga Batak ( Torsa - torsa Batak ) kutipan dari
Tumbaga Holing mengatakan bahwa Simargolang adalah
suatu marga keturunan dari Sariburaja yang masuk ke
Lottung berasal dari Guru Teteabulan yang
berhubungan lansung dari anak Raja Batak.
Dari permbicaraan dengan
hulubalang kerajaan Aceh tersebut akhirnya Banyak
Lingga meminta agar Hulubalang dan beberapa orang
prajurit untuk menunggu ditempat tersebut karena dia
akan melaporkan kepada Raja Simargolang tentang
kedatangan Sultan Aceh ke daerah mereka dan meminta
agar Raja Simargolang untuk menghadap Sultan Aceh
yang telah menuggu di Hilir Sungai Asahan.
Setelah Banyak Lingga
bercerita kepada Raja Simargolang tentang keinginan
Sulatan Iskandar Muda, Raja Simargolang menyatakan
enggan untuk berjumpa dengan Sultan Aceh tersebut
karena dia tidak mengerti bahasa Aceh dan gentar
melihat armada dan tentara kerajaan Aceh yang begitu
hebat. Kemudian ia mengumpulkan rakyatnya dan
bertanya apakah ada diantara rakyatnya yang mengerti
bahasa Aceh atau bahasa Melayu. Akan tetapi tidak
satu pun dari rakyatnya yang mengerti dengan kedua
bahasa terebut kecuali Banyak Lingga. Akhirnya Raja
Simargolang mengutus Banyak lingga untuk menghadap
Sultan Aceh dengan harapan agar kerajaan mereka
jangan diserang dan memberikan beberapa persembahan.
Banyak Lingga kemudian
didandani layaknya utusan raja dan pergi ketempat
Hulubalang dan beberapa orang prajurit Aceh menuggu
untuk bersama-sama menghadap Sultan Iskandar Muda.
Ketika Banyak Lingga bertemu dengan Sulatan Iskandar
Muda, beliau tersenyum dan berkata " Mengapa kalian
tidak membangun sebuah kampung di daerah Sungai ini
? ". Banyak Lingga menjawab " Maklumlah tuanku, kami
hanyalah sebuah kerajaan kecil yang belum mampu
untuk membangun sebuah perkampungan di tepi laut ".
Sultan Iskandar muda berkata lagi " Janganlah kamu
kuatir, bangunlah sebuah kampung di daerah ini agar
menjadi sebuah negeri yang besar ". Sultan Iskandar
Muda kemudian memberikan beberapa peralatan yang
dirasa perlu untuk membangun sebuah perkampungan dan
beberapa persenjataan yang dianggap layak untuk
membela diri kepada Banyak Lingga untuk diberikan
kepada Raja Simargolang.
Setelah pertemuan itu
Sultan Iskandar Muda dan armadanya pun berangkat
meninggalkan tempat itu. Banyak Lingga langsung
menghadap kepada Raja Simargolang untuk menyampaikan
pesan dari Sultan Aceh tersebut. Dan mendengar hal
tersebut Raja Simargolang segera melaksanakan pesan
Sultan Aceh tersebut dengan membangun sebuah
perkampungan dihilir Sungai Asahan. Dan atas
jasa-jasanya Raja Simargolang mengangkat Banyak
Lingga menjadi raja di perkampungan tersebut dengan
gelar Raja Karo-karo.
|