|
SULTAN ABDUL
JALIL RAHMATSYAH adalah merupakan anak dari
Sultan Aceh ke - 13 yaitu Sultan Alaiddin Mahkota
Alam Johan Berdaulat ( Sultan Alaiddin Riyatsyah I
Al Qahhar ) yang memerintah Kerajaan Aceh tahun 1537
- 1568 dengan isterinya Siti Ungu Selendang Bulan
yang merupakan anak dari Raja Pinang Awan di daerah
Labuhan Batu yang bernama BATARA SINOMBA yang
bergelar Marhum Mangkat dijambu.
Menurut
sejarah, ketika Sultan Aceh sedang melakukan
penyerangan ke negeri - negeri Pantai Timur
Sumatera, datanglah Isteri BATARA SINOMBA meminta
tolong kepadanya karena ia telah difitnah dan
dianiaya oleh suaminya. Mendengar pengaduan
permaisuri tersebut Sultan Aceh pun bersedia
membantu dan mengutus Raja Muda Pidie untuk
menyelesaikan masalah tersebut. Akhirnya Masalah
tersebut dapat diselesaikan dan BATARA SINOMBA pun
akhirnya terbunuh.
Sebagai rasa
terima kasihnya maka Permaisuri tersebut menyerahkan
Puterinya yang bernama Siti Ungu Selendang Bulan
untuk dinikahi oleh Sultan Aceh dan dibawa ke
Kerajaan Aceh.
Setelah
beberapa tahun maka kedua orang Abang Siti Ungu
dengan ditemani oleh Raja Batak " Karo - karo "
datang menemui Sultan Aceh meminta adiknya untuk
dibawa pulang. Sultan Aceh pun mengabulkan
permintaan kedua orang abang dari Siti Ungu tersebut
dengan syarat Apabila kelak anak yang
dilahirkan oleh Siti Ungu adalah seorang Laki - laki
maka ia harus dirajakan didaerah Asahan. Dan untuk
mengawal rombongan Siti Ungu kembali ke negerinya
maka Sultan Aceh mengutus salah seorang pembesarnya
di Pasai yaitu Anak Sakmadiraja yang berasal dari
Kampung Sungai Tarap Minangkabau.
Setibanya di
Asahan, Siti Ungu melahirkan seorang anak Laki -
laki yang diberi nama RAJA ABDUL JALIL. Siti Ungu
kemudian menikah lagi dengan Raja Karo karo yang
setelah masuk islam diberi gelah Raja Bolon dan
memperolah seorang Putera yang bernama Raja Abdul
Karim yang digelar dengan Bangsawan " Bahu
Kanan ".
Tak berapa
lama kemudian Raja Bolon menikah lagi dengan Puteri
Raja Simargolang dan memperoleh dua orang Putera
yaitu Abdul Samad dan Abdul Kahar yang
bergelah Bangsawan " Bahu Kiri ". Setelah Raja Bolon
meninggal terjadi perselisihan antara Sultan Abdul
Jalil dengan Raja Simargolang karena mengangkat
kedua cucunya tersebut menjadi raja di Kota Bayu dan
Tanjung Pati. Sultan Abdul Jalil terpaksa
mengundurkan diri ke Hulu Batu Bara dan meminta
bantuan ayahnya Sulatan Aceh. Akhirnya dengan
bantuan Sultan Aceh Raja Simargolang dapat
dikalahkan dan dipaksa untuk membuat perjanjian
damai dan pada saat itu pula Anak Sakmadiraja
dinobatkan menjadi Bendahara di Kerajaan Asahan.
Sultan Abdul
Jalil menikah dengan Puteri dari Sakmadiraja (
Bendahara ) yang bernama Aminah dan dikaruniai 5 (
Lima ) orang putera yaitu : Sultan Saidi Syah, Raja
Paduka, Raja Busu, Raja Marsyah dan Raja Huma. Dan
beliau meninggal di Pangkalan Sitarak.

|