|
Antara kerajaan Pinag Awan
( Kota Pinang ) dengan kerajaan Asahan memiliki
kekerabatan yang sangat dekat. Sebelum kerajaan
Asahan berdiri terlebih dahulu telah berdiri
kerajaan Pingan Awan. Kerajaan Pinang Awan didirikan
oleh seseorang yang bernama Batara Sinomba atau
disebut juga dengan Batara Gorga Pinayungan yang
berasal dari keturunan Minangkabau, anak dari raja
Alamsyah Syaifuddin keturunan raja Adithyawarman
yang memerintah di kerajaan Pagaruyung pada abad ke
XV masehi.
Menurut T. Ferry Bustamam
dalam bukunya yang berjudul " Bunga Rampai
Kesultanan Asahan " menceritakan bahwa Raja Alamsyah
Syaifuddin ( Raja Pagaruyung pada masa itu ) telah
mengusir seorang anak kandungnya yaitu Batara Gorga
Pinayungan dan anak tirinya yang bernama Puteri
Longgogeni dari negeri itu karena melakukan sebuah
perbuatan yang tercela menurut adat daerah tersebut.
Ketika mereka berdua sedang berkemas untuk
meninggalkan negeri tersebut tiba-tiba adik dari
Batara Gorga Pinayungan yang bernama Batara Guru
Payung bersikeras untuk ikut serta dengan mereka,
Akan tetapi Sultan Alamsyah Syaifuddin tidak
mengizinkannya. Akan tetapi dengan diam- diam
akhirnya Batara Guru Payung ikut juga dengan mereka.
Mereka bertiga memutuskan
untuk berangkat ke Negeri Aceh, karena menurut kabar
yang mereka dengar bahwa negeri tersebut adalah
negeri yang sangat makmur. Tanpa menunggu waktu lama
mereka pun berangkat menuju Utara dan sampai di
suatu daerah yang bernama Mandailing dan menetap
sementara ditempat tersebut. Tanpa disangka penduduk
Mandailing tersebut menyambut mereka dengan suka
cita dan mempersilahkan kepada mereka untuk tinggal
sementara disana.
Tidak berapa lama mereka
menetap disana, penduduk Mandailing mengetahui bahwa
mereka bertiga adalah keturunan raja. Karena daerah
Mandailing tersebut belum memiliki raja, maka
bermufakatlah para penduduk untuk mengangkat salah
seorang dari mereka bertiga untuk menjadi raja di
daerah Mandailing tersebut. Pilihan mereka jatuh
kepada Batara Guru Payung ( Adik dari Batara Gorga
Pinayungan ). Karena Batara Guru payung
menyetujuinya maka dikawinkanlah dia dengan salah
seorang Puteri Mandailing dan dinobatkan menjadi
raja Mandailing. Dari sinilah asal raja-raja
Mandailing dan keturunannya.
Beberapa hari setelah
pengangkatan tersebut Batara Gorga Pinayungan (
Batara Sinomba ) dan Puteri Longgogeni melanjutkan
rencana perjalanan mereka untuk ke negeri Aceh.
Ditengah perjalanan sampailah mereka ditepi sungai
Barumun. Karena hari telah menjelang senja dan
mereka pun sudah lelah maka mereka memutuskan untuk
beristirahat ditempat itu.
Keesokan harinya ketika
mereka hendak melanjutkan perjalanan, betapa
terkejutnya mereka melihat pamandangan di daerah
tersebut. Dan tak jauh dari tempat mereka
beristirahat ada sebuah pohon pinang yang sangat
tinggi dan indah. Dari rasa takjub akan keindahan
daerah tersebut mereka pun bermufakat untuk tidak
melanjutkan perjalanan ke negeri Aceh akan tetapi
menetap didaerah itu yang bernama Pinang Awan.
Di derah Pinang Awan hanya
ada sekelompok penduduk yang terdiri dari dua marga
yaitu marga Daposong dan Tambak. Kedua
marga tersebut dikepalai oleh Patoean Hadjoran.
Mendengar ada putera dari kerajaan Pagaruyung yang
singgah didaerah mereka, maka Patoean hadjoran
mengadakan penyambutan yang meriah. Dan bersamaan
dengan itu pula diangkatlah Batara Sinomba menjadi
raja di daerah Pinang Awan dengan gelar Sultan (
Soetan ) Sinomba.
Batara Sinomba menjadi
raja yang sangat arif dan bijaksana. Dengan
kearifannya dan kepintarannya semakin lama kampung
tersebut semakin besar hingga menjadi sebuah
kerajaan yang diberi nama Kerajaan Pinang Awan
dengan letak pusat pemerintahannya dikenal denan
nama Hotang Momo ( Hotang Mumuk ).
Batara Sinomba kemudian
menikah dengan seorang puteri dari Marga Daposong
dan dikaruniai seorang Putera yang diberi nama
Mangkuto Alam dan seorang anak puteri. Puteranya
menjadi raja di Air Merah dengan gelar Sultan
Mangkuto Alam dan mempunyai dua orang isteri dan
seorang gundik. Isteri kedua beliau adalah anak dari
raja Angkola. Dari kedua orang isterinya tersebut
beliau dikaruniai 3 ( tiga ) orang putera dan 2 (
dua ) orang puteri yaitu : Tengku Husin, Tengku
Abbas, Tengku Karib, Puteri Ungu Selendang Bulan dan
Puteri Medja. Dari gundiknya beliau juga dikaruniai
seorang putera. Akan tetapi dengan kelicikannya
gundik tersebut berhasil mempengaruhi Raja Air merah
untuk mengangkat anaknya sebagai pengganti Raja Air
Merah. Tengku Husin dan Tengku Abbas diusir oleh
ayahnya dari kerajaan Air Merah yang dikenal dengan
nama Kerajaan Panai.
Tengku Husin dan Tengku
Abbas tidak senang dengan hal ini dan membawa ibu
mereka ( permaisuri yang sah ) menghadap Sultan Aceh
( Sultan Iskandar Muda pada masa itu ) untuk meminta
bantuan. Dengan kebijaksanaannya Sultan Aceh
mengutus salah seorang Panglimanya Raja Muda Pedir
untuk menyelesaikan sengketa di Kerajaan Panai
tersebut.
Raja Muda Pedir dengan
dibekali armada perang kerajaan Aceh berangkat ke
Air Merah. Dan terjadilah pertempuraan disana. Dalam
pertempuran tersebut Sultan Mangkuto Alam mati
terbunuh di bawah pohon jambu. Dan karena itu beliau
diberi gelar Marhum mangkat dijambu. Dengan
terbunuhnya Sultan Mangkuto Alam, sengketa pun
berhasil diselesaikan. Sebagai hadiah atas bantuan
Sulatan Aceh tersebut Tengku Abbas dan Tengku Husin
beserta ibunya bersepakat untuk menyerahkan kedua
orang adik perempuan mereka yaitu Siti Ungu
Selendang Bulan dan Siti Medja sebagai hadiah kepada
Sultan Aceh untuk dijadikan Isteri.
Beberapa tahun kemudian
setelah kerajaan Panai kembali bangkit dan menjadi
sebuah kerajaan yang makmur, Tengku Husin dan Tengku
Abbas teringat dengan kedua adik perempuan mereka
yang berada di Kerajaan Aceh. Karena rasa rindu
akhirnya mereka memutuskan berangkat ke kerajaan
Aceh untuk menemui adik perempuan mereka tersebut.
Sebelum berangkat mereka singgah ke Asahan untuk
mengajak salah seorang raja disana yang pernah
bertemu dengan Sultan Aceh sebelumnya dan mengerti
dengan bahasa Aceh. Raja tersebut bernama Banyak
Lingga Karo-karo. Banyak Lingga Karo-karo pun setuju
untuk menemani mereka menemui Sultan Aceh.
Setibanya mereka di Negeri
Aceh, mereka menemukan banyak pendatang dari luar
Aceh yang berdatangan ke negeri tersebut karena
disana sedang berlangsung sayembara Sabung Ayam (
Laga ayam ) dengan hadiah yang besar. Sultan
Iskandar Muda pun ikut ambil bagian dalam sayembara
tersebut karena beliau memang hobbi dalam bidang ini.
Akan tetapi sangat disayangkan ayam milik Sultan
banyak yang mengalami kekalahan dari ayam orang
Bugis. Melihat kejadian ini mereka bertiga kemudian
mencari beberapa ekor ayam untuk dilatih. Dan karena
memang Orang Air Merah terkenal ahli dalam bidang
sabung Ayam, tidak berapa lama mereka telah memiliki
beberapa ekor ayam yang telah dilatih dan siap
dilaga untuk diserahkan kepada Sultan Iskandar Muda.
Sultan Iskandar Muda
sangat terkejut dan senang karena ayam pemberian
mereka banyak yang mengalami kemenangan dalam
sayembara tersebut. Dan Akhirnya setelah melewati
beberapa pertandingan Ayam milik Sultan Iskandar
Muda berhasil menjadi juara dalam sayembara tersebut.
Atas jasa mereka Sultan Iskandar Muda mengundang
mereka bertiga dalam acara Jamuan makan serta
menawarkan hadiah apa yang mereka inginkan.
Mendengar hal ini mereka bertiga memohon waktu untuk
bermufakat. Dan tak lama kemudian mereka bertiga
kembali menemui Sultan Iskandar Muda untuk
mengajukan permintaan sebagai hadiah yang ditawarkan
oleh Sultan.
Alangkah terkejutnya
Sultan Iskandar Muda mendengar permintaan mereka,
karena mereka meminta kedua orang adik
perempuan mereka yaitu Siti Ungu Selendang Bulan dan
Siti Medja untuk dibawa pulang ke Kerajaan Panai.
Akan tetapi denan kebijaksanaannya dan kesetiaan
dengan janjinya Sultan Iskandar Muda pun mengabulkan
permintaan mereka dengan beberapa syarat. Syarat
tersebut adalah karena pada saat itu Siti Ungu
Selendang Bulan sedang mengandung, maka sebelum anak
yang dikandungnya lahir dia tidak boleh dikawinkan
dengan siapa pun. Dan jika anak yang dilahirkannya
tersebut adalah seorang Putera maka anak tersebut
harus diangkat menjadi raja di Asahan. Mereka
bertiga menyetujui syarat tersebut dan langsung
bersiap-siap untuk berangkat pulang ke Air Merah.
Sebelum mereka berangkat
Sultan Iskandar Muda memberikan dua pucuk surat dan
berpesan kepada mereka agar singgah terlebih dahulu
di Pasai untuk membawa serta anak Sakmadiraja yang
keturunannya dari kampung sungai Tarap Minangkabau
dengan tujuan agar menjadi saksi hamilnya Siti Ungu
Selendang Bulan dan menjadi pemangku selama anak
tersebut beranjak dewasa. Sedangkan surat kedua
ditujukan kepada raja Pasai agar ia setuju untuk
melepaskan anak Sakmadiraja tersebut untuk berangkat
bersama mereka.
Setelah menerima pesan dan
dua pucuk surat tersebut mereka pun berangkat
melalui lautan dengan disaksikan oleh Sultan
Iskandar Muda. Dan seperti yang dipesankan sebelum
menuju kampung halaman mereka singgah ke Pasai
terlebih dahulu untuk menyerahkan surat dan membawa
serta anak Sakmadiraja bersama mereka.
Setelah mereka tiba di Air
Merah, beberapa bulan kemudian Siti Ungu Selendang
Bulan pun melahirkan seorang putera yang diberi nama
Abdul Jalil Rahmatsyah
dan dinobatkan menjadi
raja Asahan yang pertama.
|