|
Pada hari yang telah ditentukan,
orang tua mempelai pria akan meminjam kedua mempelai untuk
dirajakan dirumahnya. Kedua mempelai akan dijeput oleh anak
beru ( pria dan wanita ) dari pihak pengantin pria dengan
diiringi anak beru ( pria dan wanita ) dari pihak pengantin
wanita. Rombongan yang datang dan yang mendampingi haruslah
berjumlah ganjil. Bila rombongan telah sampai kerumah orang
tua pengantin pria, maka kedua mempelai harus mencuci
kakinya didalam talam dekat pintu masuk dan membawa beraneka
ragam kue dan makanan untuk kedua orang tua mempelai pria.
Kemudian secara simbolik tuan rumah akan menyerahkan kepada
menantunya ( mempelai wanita ) benda - benda seperti
Asam, Garam, Beras, Lesung dan alat - alat memasak dengan
pengertian agar sang pengantin tidak segan untuk datang dan
memasak sendiri. Malamnya dengan kelingking berkait kedua
mempelai dengan berhias pakaian yang indah dinaikkan ke
pelaminan. Maka dilakukanlah kembali upacara bersanding dan
tepung tawar oleh sanak keluarga dan para undangan. Setelah
itu bidan akan menuntun kedua mempelai masuk kedalam kamar
untuk berganti pakaian. Setelah itu kedua mempelai akan
melakukan sembah keliling kepada kedua ibu dan ayah serta
puang-puang dan kaum kerabat lainnya. Biasanya saat ini juga
kedua mempelai akan menerima hadiah dan bermacam ragam
nasehat.
Keesokan harinya kedua mempelai
akan mendatangi rumah sanak keluarga terdekat dimulai dari
yang tertua dengan diiringi oleh para anak beru dan bidan
untuk " Menghadap ". Biasanya setelah tiga malam maka kedua
mempelai akan diantarkan kembali kerumah orang tua mempelai
wanita dengan diiringi oleh para anak beru sebagaimana
ketika menjemput. Pada umumnya setelah acara ini selesailah
upacara Perkawinan menurut Adat Resam Melayu. Menurut
beberapa anggapan mempelai pria harus tinggal dirumah orang
tua mempelai wanita sekurang - kurangnya selama 2 ( Dua )
Tahun sebelum ia membawa isterinya kerumahnya sendiri.
|