|
Diatas sebuah Talam kecil
diletakkan sebuah cincin emas yang tidak bermata, garam,
beras dan Madu. Upacara ini berasal dari kepercayaan Hindu
dimana " Ghi " diberikan bagi anak yang lahir. Bayi tersebut
diletakkan didepan pintu oleh salah seorang anggota keluarga
sebagai " Penyambut " supaya kelak ia menjadi orang yang
baik. Salah seorang keluarga yang dituakan akan mengambil
cincin tersebut dan dicecahkanlah kegaram, beras dan madu
untuk di oleskan ke kebibir si Bayi dengan pengharapan
supaya tutur sapanya manis seperti madu dan bibirnya mulia
bagai emas.
Salah seorang anggota keluarga
meletakkan si Bayi diatas sebuah " Pahar " yang berisi uang
dan beras. Pahar dengan seluruh isinya ini kemudian akan
diserahkan sebagai sedekah kepada Bidan. Biasanya sampai 44
hari sejak kelahiran si Bayi sanak keluarga dan para sahabat
si Suami akan berjaga -jaga pada malam hari yang bertujuan
untuk menjaga si Ibu dan si Bayi dari gangguan Hantu
Pelasik. Uri Bayi Laki-laki akan disimpan didalam periuk
tanah dan dicampur dengan Jeruk Purut, Kencur, Kunyit,
Haliya, Bawang putih, Bawang merah dan merica. Seluruh bahan
tersebut merupakan obat - obatan untuk Uri ( Saudara si Bayi
). Sedangkan Uri dari Bayi perempuan akan dimaukkan bersama
bekas sulaman tua dan Jarum dengan harapan kelak ia akan
menjadi gadis yang pintar menjahit. Uri itu kemudian ditutup
dengan kain tujuh warna kemudian dikubur oleh Bidan.
|