|
Calon pengantin wanita telah siap
dikawal oleh anak beru dan dua orang gadis kecil membawa
kipas menuju pelaminan dan tabirpun ditutup. Di dekat
pelaminan telah disediakan alat - alat untuk tepung tawar,
Balai tiga tingkat, Lilin dan berkat - berkat. Kemudian
mempelai wanita dengan didampingi oleh bidan duduk
dipelaminan sambil memejamkan mata dan menggenggam sirih
genggam. Didepan tabir ( Tirai ) telah berdiri anak - anak
beru golongan wanita dikiri dan kanan. Para sanak keluarga
pihak calon mempelai wanita serta para undangan sudah
berkumpul dan mengambil tempat masing - masing. Rombongan
pemain Rebana telah menunggu dan demikian pula Penjulang (
penggendong ) calon mempelai pria.
Dirumah calon mempelai pria,
pengantin telah siap memakai Detar dan menggenggam " Sirih
Genggam " serta dikawal oleh dua orang anak laki - laki
kecil. Seluruh undangan yang terdiri dari anak - anak
beru, para puang dan sanak keluarga lainnya telah berkumpul.
Calon mempelai pria kemudian menghadap dan menyembah serta
mencium tangan kedua orang tuanya untuk meminta doa restu.
Sebelum calon mempelai pria berangkat ketempat calon
mempelai wanita, harus disediakan Balai, payung, tepak
penyongsong, bidan, pembawa sirih pengantin, sisa uang
mahar, uang hempang pintu dan uang buka kipas yang
diletakkan didalam uncang kuning dan dipegang oleh masing -
masing ketua anak beru pria dan wanita.
Sesampainya dihalaman rumah calon
mempelai wanita maka rombongan pemain rebana dan pencak
silat mengiringi rombongan calon mempelai pria menuju pintu
rumah sambil ditaburi bertih dan beras kuning. Calon
mempelai pria dijulang ( digendong dipundak ) sampai kedepan
pintu. Rombongan calon mempelai pria didahului oleh anak -
anak beru. Ketika hendak masuk kepintu rumah calon mempelai
wanita arak - arakan terhenti karena pintu masuk dihempang
dengan sehelai kain dan dijaga oleh anak - anak beru pria
pihak calon mempelai wanita yang disebut dengan " HEMPANG
BATANG ". Kemudian terjadilah berbalas pantun tentang apa
yang diinginkan oleh para anak beru dari pihak calon
mempelai wanita sebagai syarat untuk membuka hempang
tersebut. Setelah disepakati, maka pihak anak beru calon
mempelai pria memberikan syarat yang diminta oleh para anak
beru calon mempelai wanita, biasanya berupa uang yang
dinamakan " Uang Hempang Pintu ". Kemudian arak -
arakan calon mempelai pria masuk, akan tetapi sesampainya
didepan pelaminan arak - arakan pun terhalang karena ada
hempang yang kedua yang dijaga oleh anak beru wanita dari
pihak calon mempelai wanita. Maka dari majulah anak beru
wanita dari pihak calon mempelai pria untuk menanyakan
syarat pembuka hempang tersebut ( Biasanya juga dilakukan
dengan berbalas pantun ). Dan setelah disepakati, anak beru
perempuan calon mempelai pria memberikan syarat yang diminta
oleh anak beru wanita calon mempelai wanita yang disebut "
UANG BUKA KIPAS " maka tabir ( Tirai ) pun dibuka dan
naiklan calon mempelai pria ke pelaminan.
Sementara itu rombongan mempelai
pria pun dipersilahkan mengambil tempat masing - masing.
Selanjutnya Sirih Genggam pun dipertukarkan antara pengantin
pria dan pengantin wanita. Sementara itu berlangsung, para
anak beru laki - laki pihak pengantin pria menyerahkan
seluruh peralatan seperti Tepak penyongsong, kekurangan uang
mahar dan balai - balai Kepada anak beru laki - laki pihak
pengantin wanita. Kemudian seluruh sanak keluarga terdekat
dimintakan untuk menepung tawari kedua mempelai. Menurut
sebagahagian orang, jumlah yang menepung tawari haruslah
ganjil dan didahului oleh kaum laki - laki dari pihak
pengantin wanita. AKhirnya acara tersebut ditutup dengan
pembacaan doa.
Setelah semua selesai, maka kedua
pengantin diturunkan bersama - sama dari pelaminan dengan
pengantin wanita yang menuntun pengantin pria sambil kedua
mempelai berkait kelingking.
|